Subscribe

Jumat, 31 Juli 2009

Konsep Manusia dalam Behaviorisme (Kenalilah Dirimu Bag. 2)

"Berikan padaku selusin anak-anak yang sehat, tidak cacat, dan dunia yang aku atur sendiri untuk memelihara mereka. Aku jamin, aku sanggup mengambil salah satu dari mereka secara acak dan mendidiknya menjadi spesialis apa saja yang aku kehendaki - dokter, lawyer, artis, pedagang, bahkan pengemis atau pencuri sekali pun - tanpa memperhatikan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan maupun ras orang tuanya."


Sesumbar itu ditulis oleh Watson (1934) dalam bukunya Psychological Care of Infant and Child. Watson adalah ahli psikologi Amerika yang sering dianggap sebagai tokoh utama aliran Behaviorisme. Aliran ini muncul sebagai reaksi perlawanan terhadap aliran Introspeksionisme (yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan juga Psikoanalisis (yang berbicara tentang struktur jiwa dan alam bawah sadar yang tidak nampak). Behaviorisme ingin menganalisa perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Sejak kemunculan aliran Behaviorisme, psikologi menjadi ilmu nyata yang bisa dibuktikan melalui eksperimen-eksperimen. Menarik sekali menelusuri eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Behaviorisme, termasuk pengalaman Watson dalam membuktikan ucapan sesumbarnya di atas.



Kaum Behavioris berpendirian bahwa (1) organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis, (2) perilaku adalah hasil pengalaman, dan (3)perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi ini diperkuat dengan sumbangan Biologi abad 19, bahwa manusia hanyalah kelanjutan dari organisme yang lebih rendah (mungkin Anda masih ingat dengan teori Darwin yang kontroversial itu). Karenanya, kita dapat memahami manusia dengan meneliti perilaku organisme yang bukan manusia. Misalnya, kita dapat merumuskan teori belajar dengan mengamati bagaimana seekor binatang belajar.

Asumsi bahwa pengalamanlah yang paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah dibentuk menjadi apapun dengan menciptakan lingkungan dan pengalaman yang relevan. Lihat kembali ucapan sombong Watson di awal halaman ini. Ucapan Watson bukanlah omong kosong belaka. Ucapan ini dibuktikan oleh Watson dengan satu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins. Tujuan eksperimen adalah menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Subyek eksperimennya adalah Albert B., bayi sehat berusia 11 bulan yang tinggal di rumah perawatan anak-anak invalid karena ibunya bekerja sebagai perawat di situ. Albert menyayangi tikus putih. Sekarang rasa takut ingin diciptakan. Ketika Albert menyentuh tikus itu, lempengan baja dipukul keras-keras tepat di belakang kepalanya hingga menimbulkan suara mengejutkan. Albert tersentak, tersungkur dan menelungkupkan mukanya ke atas kasur. Proses ini diulangi, kali ini Albert tersentak, tersungkur, dan mulai bergetar ketakutan. Seminggu kemudian, ketika tikus diberikan kepadanya, Albert ragu-ragu dan menarik tangannya ketika hidung tikus itu menyentuhnya. Pada keenam kalinya, tikus diperlihatkan dengan suara keras pukulan baja. Rasa takut Albert bertambah, dan ia menangis keras. Akhirnya, kalau tikus itu muncul (walaupun tidak ada suara keras) Albert mulai menangis, membalik, dan berusaha menjauhi tikus itu. Kelak, ia bukan saja takut pada tikus, tapi ia juga takut pada kelinci, anjing, baju berbulu, dan apa saja yang mempunyai kelembutan seperti bulu tikus. Albert yang malang sudah menjadi patologis. Watson dan Rayner bermaksud menyembuhkannya lagi, bila mungkin, tetapi Albert dan ibunya telah pergi meninggalkan rumah perawatan, dan nasib Albert tidak diketahui.

Eksperimen Albert bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli netral atau conditioned stimulus (tikus putih) dengan stimuli tak terkondisikan atau unconditioned stimulus (suara keras akibat pukulan lempeng baja) yang melahirkan perilaku tertentu atau unconditioned response (ketakutan). Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus dilakukan pemukulan lempengan baja. Pelaziman klasik menjelaskan bahwa setiap kali anak membaca, orang tuanya mengambil buku dengan paksa, anak akan benci pada buku. Bila munculnya Anda selalu berbarengan dengan datangnya malapetaka, kehadiran Anda kemudian akan mendebarkan orang.


Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya operant conditioning. Kali ini subyeknya adalah burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak yang bisa diamati. Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil kecil pada dinding kotak. Makanan keluar dan merpatipun bahagia. Mula-mula merpati itu tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian, merpati tidak sengaja menyentuh tombol, dan makanan turun lagi. Sekarang, bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Bila setiap anak menyebut kata yang sopan, segera kita memujinya, anak itu kelak akan mencintai kata-kata sopan dalam komunikasinya. Bila pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik, kita menghargainya dengan memberi sebuah buku yang bagus, mahasiswa tersebut akan meningkatkan prestasinya. Proses memperteguh respons yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali-kali, disebut peneguhan (reinforcement).


Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan teori pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Misalnya, mengapa anak yang berusia 2 tahun dapat berbicara dalam bahasa ibunya? Kaum behavioris tradisional menjelaskan kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambang atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).


Menurut Skinner, mula-mula anak mengucapkan bunyi-bunyi yang tak bermakna. Kemudian orang tua secara selektif meneguhkan ucapan yang bermakna (misalnya "mamah"). Dengan cara ini berangsur-angsur terbentuk bahasa anak yang memungkinkannya bicara. Menurut Bandura, dengan cara seperti ini, penguasaan bahasa akan terbentuk bertahun-tahun, dan cara ini tidak dapat menjelaskan mengapa anak-anak dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Bandura berpendapat, belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor yang penting dalam belajar, melainkan faktor penting dalam melakukan suatu tindakan (performance). Bila anak selalu diganjar (dihargai) karena mengungkapkan perasaannya, ia akan sering melakukannya. Tapi jika ia dihukum (dicela), ia akan menahan diri untuk bicara, walaupun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan suatu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukannya ditentukan oleh peniruan.


Namun demikian psikologi sangatlah komplek. Sumbangan Bandura tidak menyebabkan behaviorisme dapat menjelaskan seluruh perilaku manusia. Behaviorisme bungkam ketika melihat perilaku manusia yang tidak dipengaruhi oleh ganjaran, hukuman, atau peniruan. Orang-orang yang menjelajahi Kutub Utara yang dingin, pemuda Jepang yang menempuh Samudera Pasifik di atas rakit, anak-anak muda 'Syi'ah yang menabrakkan truk berisi muatan dinamit, atau bom bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di Jakarta, semuanya mengungkapkan perilaku "self motivated". Behaviorisme memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Pikiran dan perasaan orang tidaklah menarik bagi kaum behavioris.


Dalam perkembangan selanjutnya, paradigma baru menyerang Psikologi Behavioristik, dan menarik psikologi kembali pada proses kejiwaan internal. Paradigma baru ini kemudian terkenal dengan sebutan Psikologi Kognitif.


Semoga bermanfaat....




Sumber:

Jalaluddin Rakhmat (1998): Psikologi Komunikasi, Edisi 12, PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.


Readmore »»

Selasa, 14 Juli 2009

Konsep Manusia dalam Psikoanalisis (Kenalilah Dirimu bag. 1)

Gnothi Seauthon…! Kenalilah dirimu…! Motto ini telah mengusik para filusuf untuk mencoba memahami dirinya. Konon, motto inilah yang mendorong berkembangnya ilmu filsafat di Yunani. Dan ternyata hingga saat ini pun masih relevan buat kita. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia telah melahirkan banyak teori-teori tentang manusia, tetapi empat pendekatan yang paling dominan dan berpengaruh adalah : Psikoanalisis, Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis.

Psikoanalisis
melukiskan manusia sebagai makhlik yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens).
Behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh stimuli lingkungan (Homo Mechanicus).
Psikologi Kognitif
melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens).
Psikologi Humanistis
menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens).

Masing-masing pendekatan dalam teori di atas memandang manusia dengan cara yang berlainan. Tidak bisa dikatakan pendekatan mana yang paling tepat untuk memahami manusia secara umum. Karakteristik manusia tampaknya merupakan sintesis dari keempat pendekatan itu. Sekali waktu ia menjadi manusia yang secara mambabi buta menuruti kemauannya (Homo Volens), pada waktu yang lain ia menjadi makhluk yang berpikir logis (Homo Sapiens). Pada suatu saat ia menyerah bulat-bulat pada proses pelaziman (conditioning) yang diterimanya dari lingkungan (Homo Mechanicus), pada saat lain ia berusaha mewarnai lingkungannya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya (Homo Ludens). Karena itu, lebih bijak rasanya jika kita memandang manusia, diri kita dan orang lain, sebagai makhluk yang dinamis, bisa berubah-ubah secara fleksibel bergantung pada konteks, situasi dan kondisinya. Sekarang, mari kita lihat pandangan Psikoanalisis tentang konsep manusia.

Psikoanalisis


Dari seluruh aliran psikologi, hanya psikoanalisislah yang secara tegas memperhatikan struktur jiwa manusia. Pendiri aliran psikoanalisis adalah Sigmund Freud, yang kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh para murid dan pengikutnya seperti Carl Jung, Adler, Abraham, Horney, Bion, dll. Freud memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah.


Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia, yaitu Id, Ego, dan Superego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia, pusat insting (hawa nafsu). Dua insting dominan dalam Id adalah: (1) Libido, yaitu insting reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif. (2) Thanatos, yaitu insting destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga insting kehidupan (eros), yang dalam konsep Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan terhadap Tuhan, dan cinta diri (narcisism). Yang kedua merupakan insting kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (Pleasure Principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu terhadap kenyataan. Id adalah tabiat hewani pada manusia.


Walaupun Id mampu melahirkan keinginan, ia tidak mampu memuaskan keinginannya. Subsistem yang kedua, yaitu Ego, berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang normal). Ego bergerak berdasarkan prinsip realitas (Reality Principle). Ketika Id mendesak supaya Anda membalas ejekan dengan ejekan lagi, ego memperingatkan Anda bahwa lawan Anda adalah "bos" yang dapat memecat Anda. Kalau Anda mengikuti desakan Id, Anda konyol. Anda pun baru ingat bahwa tidak baik melawan atasan.


Unsur moral dalam pertimbangan terakhir disebut Freud sebagai Superego. Superego adalah polisi kepribadian, mewakili nilai-nilai yang ideal. Superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak sesuai dengan norma ke alam bawah sadar. Baik Id maupun Superego berada di alam bawah sadar manusia. Ego berada di tengah, antara memenuhi desakan Id dan mentaati peraturan Superego. Untuk mengatasi ketegangan akibat konflik antara Id dan Superego, ia dapat menyerah pada tuntutan Id, tetapi berarti dihukum Superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik atau frustrasi, Ego secara tak sadar lalu menggunakan meknisme pertahanan ego, dengan mendistorsi realitas. Secara singkat dalam Psikoanalisis, perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (Ego), dan komponen sosial (Superego); atau unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).


Semoga uraian singkat di atas bermanfaat.



Sumber:

Jalaluddin Rakhmat (1998): Psikologi Komunikasi, Edisi 12, PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.

Readmore »»