Subscribe
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2009

Hasrat untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
Aku bermimpi ingin merubah dunia,
Seiring bertambahnya usia dan kearifanku,
Kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah.

Maka cita-cita pun agak kupersempit,
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku,
Namun...
Tampaknya hasrat itupun tiada hasil.

Ketika usiaku semakin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
Orang-orang yang paling dekat denganku.

Tetapi celakanya,
Mereka pun tak mau diubah...!


Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadari:

"Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku..."

Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.

Kemudian, siapa tahu,
Aku bisa mengubah dunia.



(Tertulis pada sebuah makam di Westminster, Inggris, 1100 M)

Readmore »»

Senin, 26 Oktober 2009

Prinsip Belajar


E.L. Thorndike


Thorndike menyatakan ada 2 prinsip belajar, yaitu law of effect dan law of exercise, yang terangkum dalam teorinya yaitu The Connectionism Theory.


Law of Effect

Adalah prinsip yang menyatakan bahwa seseorang dapat dengan cepat menguasai perilaku baru, apabila ia merasa memperoleh susuatu yang menyenangkan, memuaskan ketika melakukan perbuatan (response) yang berkenaan dengan perilaku tersebut di atas.

Law of Exercise
Adalah prinsip yang menyatakan bahwa makin sering perilaku baru itu dipraktekkan atau dilatih penerapannya makin kuat dan makin cepat berintegrasi dengan keseluruhan perilaku kebiasaannya.


Teori Belajar Gestalt

Teori ini disebut juga field theory atau insight full lerning. Dalam pandangan Gestalt, manusia bukan hanya sekadar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada rangsang yang mempengaruhinya.

Manusia adalah individu yang mempunyai kebulatan antara jasmani dan rohani. Secara pribadi manusia tidak secara langsung bereaksi kepada rangsang, dan tidak pula reaksi itu dilakukan secara tidak terarah, tidak pula dilakukan dengan cara trial and error. Reaksi yang dilakukan manusia tergantung pada rangsang dan bagaimana motif-motif yang terdapat pada dirinya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan.


Readmore »»

Rabu, 10 Juni 2009

Pengendalian Marah Menurut Hadits

"Apabila salah seorang di antaramu marah maka katakanlah : 'Aku berlindung kepada Allah', maka marahnya akan menjadi reda." (HR. Abi Dunya)

"Apabila salah seorang di antara kamu marah maka diamlah." (HR.Achmad)

"Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah." (HR. Asy-Syaikhany)

"Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seseorang di antaramu marah maka berwudhulah atau mandilah." (HR. Ibnu Asakir, Maukuf) Readmore »»

Kamis, 28 Mei 2009

Penerimaan (Acceptance)

Carl Rogers :

"I would like to propose, as an hypothesis for consideration, that the major barrier to mutual interpersonal communication is our very natural tendency to judge, to evaluate, to approve or disapprove."
(Saya ingin menyatakan, sebagai hipotesis untuk dipikirkan, bahwa penghalang utama komunikasi interpersonal timbal-balik adalah kecenderungan alamiah kita untuk menilai, mengevaluasi, menyetujui atau menolak)

"... when someone understands how it feels and seems to be me, without wanting to analyze me or judge me, then I can blossom and grow in that climate."
(... bila orang lain memahami bagaimana perasaan dan pandangan saya tanpa berkeinginan untuk menganalisa atau menilai saya, barulah saya dapat tumbuh dan berkembang pada iklim seperti itu)


Jalaluddin Rahmat :

"Sikap menerima tidaklah semudah yang dikatakan. Kita selalu cenderung menilai dan sukar menerima. Akibatnya, hubungan interpersonal kita tidak berlangsung seperti yang kita harapkan. Bila kita tidak bersikap menerima, kita akan mengkritik, mengecam,atau menilai. Sikap seperti ini akan menghancurkan percaya. Orang enggan pula menerima kita, karena takut pada akibat-akibat jelek yang akan timbul dari reaksi kita. Sikap menerima menggerakkan sikap percaya, karena orang tahu kita tidak akan merugikan mereka."

"Menerima tidaklah berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat-akibat perilakunya. Menerima berarti tidak menilai pribadi orang berdasarkan perilakunya yang tidak kita senangi. Betapapun jeleknya perilakunya menurut persepsi kita, kita tetap berkomunikasi dengan dia sebagai persona, bukan sebagai objek."

Readmore »»

Children Learns What They Live

(by Dorothy Law Nolte)

 



If a child lives with criticism, he learns to condomn…

(Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki)

If a child lives with hostility, he learns to fight…

(Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi)

If a child lives with ridicule, he learns to be shy…

(Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri)

If a child lives with shame, he learns to feel guilty…

(Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri)

If a child lives with tolerance, he learns to be patient…

(Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri)

If a child lives with encouragement, he learns to confident…

(Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri)

If a child lives with praise, he learns to appreciate…

(Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai)

If a child lives with fairness, he learns justice…

(Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan)

If a child lives with security, he learns to have faith…

(Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan)

If a child lives with approval, he learns to like himself…

(Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri)

If a child lives with acceptance and friendship,  he learns to find love in the world.

(Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan)



Keterangan:

Puisi ini saya kutip dari buku 'Psikologi Komunikasi' karya Jalaluddin Rahmat (1998), salah satu buku favorit saya.

Readmore »»