Subscribe

Senin, 11 Januari 2010

Kepercayaan

Kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis benar. Koehler (1978) dalam buku Public Communication: Behavioral Perspective menyatakan kepercayaan merupakan keyakinan bahwa sesuatu itu 'benar' atau 'salah' atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau intuisi. Jadi, kepercayaan dapat bersifat rasional atau irrasional. Kita percaya bahwa bumi itu bulat karena para ilmuwan telah menyodorkan bukti-buktinya. Anda percaya bahwa rokok itu penyebab kanker karena dokter -si pemegang otoritas ilmu kesehatan- mengatakan begitu (sebenarnya penyakit kanker sampai sekarang belum diketahui penyebab pastinya). Banyak orang percaya bahwa kemiskinan itu disebabkan oleh kemalasan (berdasarkan pengalaman atau intuisi).


Dari manapun kepercayaan itu berasal, kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap obyek sikap. Bila orang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh makhluk halus maka ia akan menolak pengobatan secara medis dan lebih condong untuk meminta bantuan dukun, kyai, atau orang pintar yang dianggap menguasai ilmu ghaib. Bila orang percaya bahwa anak mendatangkan rizki, kampanye KB tidak akan menghasilkan apapun sebelum orang itu memperoleh kepercayaan yang baru.

Menurut Solomon E. Asch (1959), penulis buku Social Psychology, kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan. Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang. Banyak kepercayaan kita didasarkan pada pengetahuan yang tidak lengkap. Kita percaya bahwa seluruh pemuda di Amerika bergaul bebas, berdasarkan apa yang kita lihat dalam film atau kita baca dalam surat kabar dan majalah. Benarkah pemuda-pemuda Amerika seperti itu?

Kebutuhan dan kepentingan juga sering mewarnai kepercayaan kita. Belum lama ini pemerintah membuka pendaftaran seleksi CPNS di seluruh daerah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada setiap penyelenggaraan seleksi CPNS selalu beredar issu KKN di dalamnya. Tanpa chanel pejabat yang berpengaruh tak akan bisa lolos CPNS. Kalau mau diterima harus siap sedia mengeluarkan sejumlah uang. Maka bermunculan orang-orang yang mengaku kenal dekat dengan pejabat ini atau pejabat itu. Mereka menawarkan jasa untuk menjadi penghubung antara peserta seleksi dan pejabat yang dianggap berpengaruh dan mampu meloloskan peserta seleksi. Dan tentu saja sebagai pihak pemakai jasa, si peserta seleksi harus membayar jasa para makelar itu selain jasa pejabat yang akan meloloskannya. Pada awalnya, mungkin disepakati bahwa uang hanya akan disetorkan setelah ada pengumuman kelulusan dan si peserta dinyatakan lulus. Sementara itu, si makelar hanya meminta ongkos jalan untuk menghubungi sang pejabat atau sekedar membawakan oleh-oleh untuknya. Menjelang pengumuman, si makelar datang dan memberitahukan bahwa sang pejabat tak mau ambil resiko dan minta uang disetorkan sebelum pengumuman. Ajaib, jauh hari sebelumnya si peserta seleksi cukup berhati-hati dalam mempercayai dan menyikapi setiap omongan si makelar terutama yang menyangkut uang setoran, sekarang justru kebalikannya. Ia percaya bahwa ia memang harus mengeluarkan uang hari itu juga, agar esok namanya tercantum dalam lembar pengumuman nama-nama peserta yang lolos dalam seleksi CPNS.

Terakhir, bahwa kepentingan juga mempengaruhi kepercayaan mengingatkan saya pada kisah hidup Galileo Galilei (1564-1642), seorang filsuf, astronom, sekaligus fisikawan dari Italia. Galileo dikenal sebagai pendukung teori Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari berdasarkan analisanya atas hasil pengamatannya terhadap benda-benda langit menggunakan teleskop yang telah disempurnakannnya. Pemikiran Galileo tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja saat itu bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Akibat pandangannya itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia, dan dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai dengan meninggalnya. Pikiran Galileo ditentang orang bukan saja karena pengetahuan yang dia berikan berbeda dengan apa yang diketahui orang banyak, tetapi juga karena penerimaan gagasan Galileo akan bertentangan dengan tatanan sosial yang ada waktu itu. Pihak gereja menganggap teorinya sebagai ajaran sesat dan berbahaya sehingga akhirnya menjatuhkan vonis Galileo harus ditahan di Sienna.

0 komentar:

Posting Komentar