Subscribe

Minggu, 10 Januari 2010

Dalil-dalil tentang Perhatian Selektif

"Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah," kata Kenneth E. Anderson (1972) dalam bukunya "Introduction to Communication Theory and Practice".

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang apa yang menjadi perhatian kita bukanlah apa yang menjadi perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan pada diri kita untuk melihat hanya apa yang ingin kita lihat, mendengar hanya apa yang ingin kita dengar. Inilah yang dinamakan dengan 'perhatian selektif'.


Ketika tiga orang anak muda dengan konteks kondisi masing-masing berbeda duduk di sebuah restoran, mereka menaruh perhatian pada hal-hal yang berbeda pula. Orang pertama, karena lapar matanya selalu tertuju pada nasi dan daging yang menjadi menu restoran tersebut. Orang kedua, karena haus ia lebih tertarik melihat aneka menu es yang ditawarkan. Nah, orang ketiga kebetulan baru saja menonton sebuah video porno. Hmm...coba tebak, apa ya kira-kira yang menjadi perhatiannya di restoran tersebut? Jelaslah bahwa faktor-faktor biologis dengan mudahnya mempengaruhi perhatian kita.

Faktor-faktor sosiopsikologis juga tak kalah berperan dalam proses selektif perhatian kita. Bila saya sodorkan kepada Anda sebuah foto yang menggambarkan kerumunan orang banyak di sebuah kolam renang, mungkin komentar Anda akan berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian Anda saat itu. Tetapi saya yakin, tak satupun di antara Anda akan melaporkan berapa jumlah orang yang ada di kolam itu, kecuali saya menanyakannya kepada Anda sebelum menyerahkan foto itu. Karena stimuli sosiopsikologis dari sayalah Anda menaruh perhatian pada jumlah orang yang ada di kolam renang yang terdapat pada foto itu. Motif sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan kemauan mempengaruhi apa yang kita perhatikan.

Dalam perjalanan naik gunung, seorang geolog akan memperhatikan bebatuan, ahli botani lebih tertarik pada tetumbuhan, ahli zoologi pada binatang-binatang, seniman pada warna dan bentuk, dan orang yang berpacaran...entahlah. Sebuah anekdot mengatakan, bila Anda ingin mengetahui dari suku mana kawan Anda berasal, bawalah mereka berjalan-jalan. Tanyakan berapa perempatan yang telah dilewati. Yang dapat menjawab pastilah orang Padang (umumnya mereka pedagang kaki lima..hehe). Tanyakan berapa pagar tanaman hidup yang telah dilihatnya. Yang dapat menjawab pastilah orang Sunda (karena mereka menyenangi sayuran...haha). Tanyakan berapa kuburan keramat yang ada. Hanya orang Jawa yang bisa menjawabnya (Loh kok..? Ya begitulah..hihi). Semua ini menggambarkan bagaimana latar belakang kebudayaan, pengalaman, dan pendidikan menentukan apa yang kita perhatikan.

Berikut ini dalil-dalil tentang perhatian selektif yang menjadi kesimpulan Kenneth E. Anderson:

Satu
Perhatian itu merupakan proses yang aktif dan dinamis, bukan proses yang pasif dan refleksif. Kita secara sengaja mencari stimuli tertentu dan mengarahkan perhatian kepadanya. Sekali-sekali, kita mengalihkan perhatian dari stimuli yang satu dan memindahkannya pada stimuli yang lain.

Dua
Kita cenderung memperhatikan hal-hal tertentu yang penting, menonjol, atau melibatkan diri kita.

Tiga
Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan keyakinan, sikap, nilai, kebiasaan, dan kepentingan kita. Kita cenderung memperkokoh keyakinan, sikap, nilai, dan kepentingan yang ada dalam mengarahkan perhatian kita, baik sebagai komunikator maupun komunikate (penerima pesan).

Empat
Kebiasaan bukan saja sangat penting dalam menentukan apa yang menarik perhatian, tetapi juga apa yang secara potensial akan menarik perhatian kita. Kita cenderung berinteraksi dengan kawan-kawan tertentu, membaca majalah tertentu, dan menonton acara TV tertentu. Hal-hal seperti ini akan menentukan rentangan hal-hal yang memungkinkan kita untuk menaruh perhatian.

Lima
Dalam situasi tertentu kita secara sengaja menstrukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikkan.

Enam
Walaupun perhatian kepada stimuli berarti stimuli tersebut lebih kuat dan lebih hidup dalam kesadaran kita, hal itu tidaklah berarti bahwa persepsi kita akan betul-betul cermat. Kadang-kadang konsentrasi yang sangat kuat malah mendistorsi persepsi kita.

Tujuh
Perhatian tergantung kepada kesiapan mental kita. Kita cenderung mempersepsi apa yang memang ingin kita persepsi.

Delapan
Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi. Tidak jarang efek motivasi ini menimbulkan distraksi (lolos, melewatkan apa yang patut diperhatikan) atau distorsi (penyimpangan, melihat apa yang sebenarnya tidak ada).

Sembilan
Intensitas perhatian tidak konstan.

Sepuluh
Dalam hal stimuli yang menerima perhatian, obyek perhatian juga tidak konstan. Kita mungkin memfokuskan perhatian kepada obyek sebagai keseluruhan, kemudian pada aspek-aspek obyek itu, dan kembali lagi kepada obyek secara keseluruhan.

Sebelas
Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha itu sering menuntut perhatian. Pada akhirnya, perhatian terhadap stimuli mungkin akan berhenti.

Dua belas
Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak. Makin besar keragaman stimuli yang mendapat perhatian, makin kurang tajam persepsi kita pada stimuli tertentu.

Tiga belas
Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan mempertahankan perhatian.


Semoga bermanfaat.


0 komentar:

Posting Komentar